Sumberbaru, pcnujember.or.id – Di bawah semilir angin dan langit yang bersahabat, langkah-langkah khidmah warga Nahdlatul Ulama kembali menapak jejak sejarah. Ranting NU se-MWCNU Sumberbaru menggelar ziarah muassis dan muharrik pada Jumat hingga Sabtu, 30–31 Januari 2026, sebagai ikhtiar merawat ingatan, menumbuhkan keteladanan, serta meneguhkan sanad perjuangan organisasi.
Kegiatan yang dimulai sejak ba’da Salat Jumat hingga menjelang magrib itu dilanjutkan keesokan harinya dengan penuh kekhidmatan. Para peserta menapaki satu demi satu makam para pendiri dan penggerak NU di wilayah Sumberbaru, seakan menyusuri kembali jalan sunyi yang dahulu ditempuh para ulama dalam menegakkan panji Ahlussunnah wal Jamaah.
Salah satu titik utama ziarah adalah makam KH. Sofwan, pendiri MWCNU Sumberbaru. Di pusara beliau, doa-doa dipanjatkan dengan lirih, mengalir bersama harap agar semangat perjuangannya terus hidup di dada para kader. Rombongan juga berziarah ke makam KH. Sandiqo dan KH. Mustafid, sosok penerus estafet dakwah KH. Sofwan yang turut mewarnai perjalanan NU di kawasan ini.
Selain itu, para peziarah juga menyambangi makam para muharrik dan tokoh NU lainnya, di antaranya K. Ishaq, KH. Muhsin, K. Bersari, KH. Imam Makruf, K. A. Dasuki, H. Usman, H. Nur Wahid, K. Muaji, K. Saeroji, K. Rosidi, H. Zaini, K. Sarijan, Habib Muhammad, K. Nahrowi, Habib Abdullah, K. Abd. Rozaq, H. Musair, P. Badrun, H. Hasan, P. Sebo, H. Mustaqim, H. Maksum, K. Husnun, H. Abd. Latif, KH. Umar Qurdi, KH. Muntaha, P. Sanurin, P. Karman Hadi, H. Nur Hamid, Ust. Abd. Somad, K. Fadlun Munir, dan H. Nursahid.
Di setiap persinggahan, lantunan tahlil, doa, dan manaqib menggema, menjadi saksi bahwa jasa para ulama tidak pernah lekang oleh waktu. Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin untuk menimba hikmah, meneguhkan niat, serta memperbaharui semangat khidmah.
Ziarah muassis dan muharrik ini menjadi bagian dari upaya MWCNU Sumberbaru dalam menanamkan nilai sejarah, keteladanan, dan loyalitas organisasi kepada seluruh kader. Dari pusara para pendahulu, lahir kembali kesadaran bahwa NU dibangun dengan keikhlasan, pengorbanan, dan cinta umat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus dan warga Nahdlatul Ulama semakin memahami akar perjuangan para ulama salaf, serta mampu melanjutkan estafet dakwah dan pengabdian dengan penuh tanggung jawab, keistiqamahan, dan keberkahan.
Reporter: Riski Wahyudi
Editor : Irwansyah GI















Respon (1)