Oleh: Muh Gufron Hidayatullah
Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam kehidupan umat Islam. Ia bukan sekadar kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga menjadi pedoman hidup (hudā li al-nās) yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran. Kitab ini mengatur seluruh aspek kehidupan biologis, sosial, moral, hingga politik dengan nilai-nilai ilahiah yang universal. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]:2)
Qur’an berfungsi sebagai norma universal dan instrumen transformasi sosial. Ia menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya ilmu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ibrahim [14]:1:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”
Makna transformasi sosial yang dibawa Qur’an bukan hanya perubahan perilaku individu, tetapi juga pembentukan tatanan masyarakat yang beradab, moderat, dan berkeadilan. Nilai-nilai Qur’ani membangun struktur moral dan sosial yang kokoh—menegakkan keilmuan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.
Sejak masa Rasulullah ﷺ, perhatian terhadap Qur’an begitu besar. Para sahabat tidak hanya membaca dan menghafalnya, tetapi juga memahami dan menulisnya dengan penuh ketelitian. Mereka belajar langsung dari Rasulullah SAW yang menjadi guru spiritual sekaligus pembimbing makna wahyu.
Transformasi besar pun terjadi: masyarakat Arab yang sebelumnya tenggelam dalam kegelapan jahiliyah berubah menjadi umat madani yang berakhlak dan beradab. Mereka meninggalkan penyembahan berhala, menghormati perempuan, dan menegakkan keadilan sosial.
Pada masa Khulafā’ al-Rāsyidīn, perhatian itu dilanjutkan dengan tadwīn al-Qur’an (kodifikasi mushaf) untuk menjaga keaslian wahyu dan menghindari perbedaan bacaan yang menyesatkan. Mushaf-mushaf kemudian dikirim ke berbagai wilayah Islam agar cahaya Qur’an menerangi dunia.
Ketika Islam meluas ke wilayah non-Arab, para ulama dan kiai menjadi penerus perjuangan. Dari tangan-tangan merekalah lahir berbagai disiplin ilmu seperti ‘ulūm al-Qur’an, tafsīr, qirā’āt, balāghah, dan ta’wīl. Semua itu lahir dari cinta dan komitmen terhadap kesucian kalamullah.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: di manakah posisi kita di hadapan Qur’an? Seberapa dekat kita dengannya? Apakah Qur’an hanya sekadar bacaan, atau sudah hadir dalam hati dan perilaku kita?
Mendapatkan cinta Qur’an bukanlah hal yang instan. Ia membutuhkan proses panjang—mulai dari mendengarkan bacaan, membaca dengan tartīl, memahami maknanya, hingga mengajarkannya kepada orang lain. Sebab, ketika kita mencintai Qur’an, maka Qur’an pun akan mencintai kita kembali dan menjadi cahaya dalam kehidupan.
Di era modern, perhatian terhadap Qur’an tetap terjaga. Para cendekiawan mengembangkan metode tafsir tematik (maudhu‘i) untuk menjawab tantangan zaman, mengaitkan ayat-ayat dengan isu sosial, sains, hingga kemanusiaan. Bahkan, teknologi digital menghadirkan Qur’an dalam bentuk aplikasi, e-mushaf, dan kecerdasan buatan untuk memperluas akses pemahaman.
Namun di balik kemajuan ini, muncul tantangan besar: pergeseran dari tadabbur (perenungan) menuju sekadar tartīl (bacaan formal). Banyak umat Islam yang berinteraksi dengan Qur’an hanya secara tekstual, tanpa menginternalisasi nilai-nilainya. Akibatnya, Qur’an dibaca tetapi tidak dihayati, dikaji tetapi belum diamalkan dalam perilaku sosial.
Urgensi Qur’an bagi umat Islam terletak pada fungsinya sebagai sumber nilai dan moral peradaban. Ia bukan hanya bacaan ritual, melainkan juga sistem etika yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan modern.
Perjalanan panjang para pecinta Qur’an—dari masa Rasulullah hingga era digital—mengajarkan satu hal: bahwa cinta kepada Qur’an adalah perjalanan tanpa akhir. Ia harus terus dihidupkan agar wahyu tetap menjadi cahaya peradaban dan pedoman hidup umat manusia sepanjang masa.
*Penulis adalah Waka kurikulim Ma Alif Lam Mim Surabaya dan Dosen IAIMU (Institut Agama Islam Miftahul Ulum), Pengurus LBMNU Kab. Lumajang









This is pure gold. Thank you for sharing your expertise.
King88onlinecasino is a cool find! They have a decent selection of games and the whole vibe is pretty chill. Had a good time browsing around and even won a little something. Give it a spin, you might like it! king88onlinecasino
Downloaded tải poker king from taipokerking.com. The game is actually pretty good. Lots of folks playing, and the tables are active. Good way to up your poker game. Good Luck! tải poker king
Yo, checked out Bet291 and gotta say, not bad! Site’s clean, easy to navigate. Seems like a decent spot to throw down a few bets. Give it a shot! bet291