Rektor dari Pesantren : Ahmad Halid dan Jalan Sunyi Membangun Pendidikan Islam Berkarakter Aswaja

Dr. Ahmad Halid, S.Pd.I., M.Pd.I., Rektor Universitas Islam Jember (UIJ)

Penulis : Irwansyah Giovani I

pcnujember.or.id – Ia tidak lahir dari hiruk-pikuk politik kampus atau riuh panggung akademik. Ahmad Halid justru tumbuh dari lorong sunyi pesantren, tempat disiplin, adab, dan ketekunan menjadi laku hidup sehari-hari. Dari ruang-ruang sederhana itulah, seorang santri Bawean meniti jalan panjang hingga dipercaya memimpin Universitas Islam Jember sebagai rektor sejak 2024.

Lahir di Dusun Pategalan, Desa Kelompag Gubuk, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, pada 2 Februari 1982, Ahmad Halid adalah anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muhammad Syafi’i dan Misaya. Sejak remaja, ia ditempa di Pondok Pesantren Mambaul Falah Tambilung, sebuah pesantren yang dikenal kuat dalam tradisi salaf dan kedalaman spiritual. Di sanalah fondasi keilmuan dan karakter Ahlussunnah wal Jama’ah mulai mengakar.

Perjalanan santrinya berlanjut ke Jawa. Tahun 2003, Halid mondok di Pesantren Nurur Rahman dan Pondok Miftahul Ulum Renes, Wirowongso, Ajung, Jember. Bagi Halid, mondok bukan sekadar melanjutkan tradisi keluarga kedua orang tuanya adalah santri melainkan ikhtiar membangun watak. Kitab kuning, adab kepada kiai, dan laku hidup sederhana menjadi sekolah sesungguhnya.

Baca Juga:  Gurunya Para Santri : K.H. Ahmad Nahrawi, Sang Arsitek Generasi 'Always Ready to Use

Nilai-nilai pesantren itu kemudian dibawa Halid ke dunia akademik. Sejak menjadi dosen tetap Universitas Islam Jember pada 2009, ia konsisten menempatkan pendidikan Islam bukan hanya sebagai disiplin ilmu, tetapi sebagai instrumen pembentukan karakter. Hal itu tergambar jelas dalam karya-karyanya yang banyak membahas hidden curriculum pesantren, moderasi beragama, dan nasionalisme santri.

Dalam tulisannya Hidden Curriculum Pesantren: Urgensi, Keberadaan dan Capaiannya, Halid menekankan bahwa keberhasilan pendidikan pesantren justru terletak pada nilai-nilai tak tertulis: keteladanan kiai, kultur tawadhu’, dan disiplin spiritual. Gagasan ini ia perkuat melalui karya Kurikulum Pendidikan Pesantren: Mengurai Pembentukan Karakter Nasionalisme Santri, yang memposisikan pesantren sebagai benteng aqidah sekaligus penjaga keutuhan NKRI.

Di tengah tantangan global, Halid tidak bersikap defensif. Dalam Prospek Pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam dalam Konteks Era Global, ia mendorong pendidikan Islam agar adaptif terhadap perubahan, profesional dalam pengelolaan, namun tetap berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Moderasi, baginya, bukan kompromi iman, melainkan strategi kebudayaan.

Baca Juga:  Peringati Harlah NU ke-95 dengan Ngaji Kitab Hujjah Ahlussunah Waljamaah

Perhatian Halid terhadap toleransi dan kebhinekaan tercermin dalam tulisannya tentang tasamuh dalam masyarakat multikultural. Ia memandang Islam Nusantara sebagai praktik hidup bukan sekadar konsep yang mampu merawat harmoni tanpa kehilangan prinsip.

Selain sebagai akademisi, Ahmad Halid juga menapaki jalur kepemimpinan pendidikan secara bertahap. Ia pernah menjabat Kepala SD As-Syafa’ah (2012–2015), Kepala Kepegawaian Universitas Islam Jember (2016–2018), Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah (2018–2022), dan Direktur Pascasarjana UIJ (2022–2024), sebelum akhirnya dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Jember. Setiap jabatan dijalaninya dengan pendekatan kultural khas santri: pelan, tertib, dan berbasis keteladanan.

Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, pemikiran Ahmad Halid sejalan dengan khittah NU: menjaga aqidah, merawat tradisi, dan membangun peradaban. Pesantren, kampus, dan masyarakat ia pandang sebagai satu ekosistem dakwah kultural. Karena itu, pendidikan Islam baginya harus melahirkan insan berilmu sekaligus berakhlak, cerdas sekaligus berakar.

Baca Juga:  Lebih dari Sekadar Sekolah Seharian : SD NU 22 Full Day School Al Hikmah Bentuk Karakter ASWAJA Sejak Dini

Sebagai rektor, ia mendorong Universitas Islam Jember tetap berada dalam orbit nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah, menjadikan kampus sebagai ruang penguatan moderasi beragama, nasionalisme, dan keislaman yang ramah. Kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi kader intelektual yang mampu menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Dari pesantren kecil di Bawean hingga ruang rektorat di Jember, Ahmad Halid memilih jalan sunyi menulis, mengajar, dan membangun institusi dengan kesabaran. Ia membuktikan bahwa pendidikan Islam yang kokoh tidak lahir dari gaduh wacana, tetapi dari konsistensi nilai.

Di tangannya, pesantren dan kampus tidak berdiri berhadap-hadapan. Keduanya berjalan beriringan, saling menguatkan, membentuk pendidikan Islam yang berilmu, beradab, dan berkarakter Aswaja.

Respon (4)

  1. Just downloaded the bit789app and so far, so good. Easy to navigate, and the games are running smooth. Gives you a fresh experience, worth exploring. Check it out if you want a mobile alternative! bit789app

  2. Just tried out zz777br1, and gotta say, it’s pretty slick! The layout is clean, and I found some games I really dig. Definitely worth checking out, guys! Give it a go at zz777br1.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *