Patrang, pcnujember.or.id – Pondok Pesantren Rotan, Patrang, Sabtu (11/1/2026), seakan menjadi samudra hijau yang menyejukkan. Ratusan Muslimat NU dari seluruh ranting se-Anak Cabang Patrang tumpah ruah memenuhi halaman dan aula pesantren dalam kegiatan rutin bulanan Forum Komunikasi (FK) Muslimat NU.
Rutinan kali ini terasa jauh lebih khidmat karena dirangkai dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dengan mengusung tema “Menguatkan Komitmen Ibadah dan Akhlak Mulia untuk Membentuk Muslimah Berkualitas”.
Kegiatan ini tak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum menyemai kembali kesadaran spiritual di tengah hiruk pikuk kehidupan. Balutan seragam hijau Muslimat NU yang mendominasi arena seolah menjadi simbol kesejukan iman yang tumbuh subur di dada para jamaah.

Acara diawali dengan tawassul dan tahlil, dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya, Syair Ya Lal Wathon, dan Mars Muslimat NU sebagai penegasan jati diri Muslimat NU yang setia pada iman dan cinta tanah air.
Hadir sebagai pemateri utama, Ketua MWCNU Patrang, Kyai Mustamik Syamhudi, mengajak para jamaah menyelami kembali makna terdalam Isra’ Mi’raj melalui kajian fikih shalat. Ia menegaskan bahwa peristiwa agung perjalanan Rasulullah SAW itu berujung pada satu titah ilahi: kewajiban shalat sebagai tiang agama.
“Shalat bukan hanya rutinitas, tetapi jalan ruhani menuju kedekatan dengan Allah,” tegasnya. Dengan bahasa yang lugas namun membumi, Kyai Mustamik mengurai pentingnya kesempurnaan wudu, ketepatan rukun shalat, hingga hal-hal kecil yang sering luput namun bisa merusak kualitas ibadah.
Rutinan bulanan ini pun tak sekadar menjadi forum berkumpul, melainkan ruang belajar yang terus hidup. Pondok Pesantren Rotan sebagai tuan rumah tampil sebagai panggung yang ramah bagi para Muslimat untuk menimba ilmu sekaligus merajut ukhuwah.
Dari forum inilah, Muslimat NU Patrang menegaskan perannya sebagai madrasah berjalan ⁸organisasi yang tak henti mencerdaskan umat dengan ajaran Islam yang ramah, moderat, dan berakar kuat pada tradisi.
Menjelang penutupan, doa-doa pun dipanjatkan bersama, seolah menjadi simpul spiritual yang mengikat seluruh hadirin. Dari Pesantren Rotan, para Muslimat pulang membawa lebih dari sekadar catatan kajian: mereka membawa tekad baru untuk menyempurnakan ibadah dan memperindah akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Geby Niqita Pradila
Editor: Irwansyah GI








