Harmonisasi Syuriah dan Tanfidziyah, Kunci MWCNU Patrang Rumuskan Arah Gerak Organisasi

(Foto/Geby Niqita Pradilaf) Suasana Musyawarah Kerja (Musker) Ke-III MWCNU Patrang sebagai forum perumusan arah gerak organisasi, Patrang, Jember.

Patrang, pcnujember.or.id – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Patrang, Jember, sukses menggelar Musyawarah Kerja (Musker) Ke-III sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi organisasi. Forum ini tidak sekadar menjadi ruang administratif, tetapi menjelma sebagai wahana konsolidasi gagasan, perenungan nilai, sekaligus peneguhan komitmen dalam melayani umat secara berkelanjutan.

Musker Ke-III MWCNU Patrang menjadi cermin bahwa organisasi modern tetap dapat tumbuh tanpa tercerabut dari akar tradisi. Melalui forum ini, MWCNU Patrang menegaskan pentingnya tiga pilar utama dalam menggerakkan roda organisasi, yakni soliditas struktural, kemandirian program, serta kedekatan spiritual dengan para pendahulu.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah muharrik yang diikuti oleh seluruh jajaran pengurus, badan otonom, hingga pengurus ranting. Tradisi ini menjadi penanda bahwa setiap ikhtiar organisasi selalu diawali dengan doa dan penghormatan kepada para pejuang NU. Ziarah bukan sekadar ritual, melainkan media pembelajaran spiritual untuk meneladani integritas, keikhlasan, dan militansi para muassis.

Baca Juga:  Ma’ruf Amin: Santri NU Jangan Isra’ Terus

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga sanad perjuangan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, agar setiap kebijakan yang lahir tidak hanya bernuansa teknis, tetapi juga memiliki landasan moral dan etika keumatan yang kokoh.

Dari sisi manajerial, jalannya musyawarah dipandu oleh jajaran Rais Syuriah sebagai otoritas tertinggi dalam memberikan pertimbangan hukum dan keagamaan. Arahan tersebut kemudian diimplementasikan oleh jajaran Tanfidziyah sebagai penggerak utama program dan kebijakan organisasi.

(Foto/Geby Niqita Pradilaf) Suasana Musyawarah Kerja (Musker) Ke-III MWCNU Patrang sebagai forum perumusan arah gerak organisasi, Patrang, Jember.

Sinergi antara Syuriah dan Tanfidziyah tampil sebagai ruh utama kepemimpinan MWCNU Patrang. Syuriah berperan sebagai penjaga arah dan nilai, sementara Tanfidziyah menjadi motor penggerak di lapangan. Harmoni dua lini ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang efektif lahir dari perpaduan kebijaksanaan dan profesionalisme.

Baca Juga:  Menavigasi Etika Digital dalam Bingkai Syariat, LBM MWCNU Patrang Bahas Hak Cipta Konten YouTube

Keterlibatan aktif berbagai badan otonom dan lembaga, seperti Muslimat NU, GP Ansor, IPNU-IPPNU, LAZISNU, LESBUMI, LPNU, LBMNU, dan LTMNU, menunjukkan komitmen MWCNU Patrang dalam membangun pelayanan keumatan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Menambah bobot sosial Musker Ke-III, MWCNU Patrang juga menghadirkan layanan kesehatan alternatif melalui kerja sama dengan Jam’iyah Ruqyah Aswaja (JRA). Layanan ruqyah, bekam, dan pijat refleksi dibuka untuk masyarakat umum sebagai wujud konkret khidmah NU di bidang kesehatan rohani dan jasmani.

Kehadiran layanan ini mempertegas bahwa NU tidak hanya hadir di mimbar dan forum musyawarah, tetapi juga di tengah denyut kehidupan masyarakat. Organisasi keagamaan, dalam perspektif MWCNU Patrang, memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut meringankan beban umat secara holistik.

Baca Juga:  Siapkan Calon Pendidik Profesional, FKIP UIJ Kerahkan Mahasiswa FKIP untuk PPL di MTs Negeri 4 Jember

Dengan berakhirnya Musker Ke-III ini, MWCNU Patrang telah meletakkan pondasi kerja yang kokoh untuk masa khidmah mendatang. Lebih dari sekadar agenda tahunan, musyawarah ini menjadi peneguhan arah bahwa kekuatan NU terletak pada kemampuannya menyatukan nilai, struktur, dan pelayanan sosial dalam satu tarikan napas perjuangan.

Reporter : Geby Niqita Pradilaf

Editor : Irwansyah GI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *