Seminar Nasional UIJ: Meneguhkan Aswaja di Tengah Keberagaman Australia

Honest Dody Molasy, S.Sos., MA., CIQaR., CIQnR., CHRM., CRP., menyampaikan materi dalam Seminar Nasional UIJ bertema “Islam Aswaja di Benua Kanguru: Meneguhkan Identitas Nahdliyin di Tengah Keberagaman Australia”.

Kaliwates, pcnujember.or.id – Di tengah dunia yang bergerak cepat seperti ombak samudra tanpa tepian, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dinilai tetap menjadi pelita yang menuntun arah kehidupan umat. Semangat itulah yang mengalir dalam Seminar Nasional yang digelar Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Aswaja An-Nahdliyah (LP2AN) Universitas Islam Jember (UIJ), Rabu (13/5).

Mengusung tema “Islam Aswaja di Benua Kanguru: Meneguhkan Identitas Nahdliyin di Tengah Keberagaman Australia”, seminar tersebut menghadirkan pemateri Honest Dody Molasy, S.Sos., MA., CIQaR., CIQnR., CHRM., CRP.kademisi sekaligus pemerhati Islam moderat di Australia.

Dalam forum ilmiah itu, Aswaja digambarkan bukan sekadar warisan pemikiran, melainkan akar yang menjaga pohon peradaban tetap tegak di tengah terpaan zaman.

Baca Juga:  Semarak Apel dan Kirab Santri Warnai Peringatan HSN 2025 di Semboro

Dalam pemaparannya, Honest Dody Molasy menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat muslim di Australia menghadapi dinamika sosial yang sangat beragam. Namun di tengah keberagaman itu, nilai Aswaja justru hadir sebagai jembatan yang merangkul perbedaan tanpa kehilangan jati diri.

“Di Australia, keberagaman adalah kenyataan sehari-hari. Aswaja mengajarkan bagaimana menjadi muslim yang tetap kokoh dalam prinsip, tetapi lembut dalam bersikap,” ujarnya.

Suasana peserta Seminar Nasional UIJ tampak antusias mengikuti pemaparan materi tentang Islam Aswaja di tengah keberagaman Australia.

Menurutnya, warga Nahdliyin di negeri kanguru ibarat membawa sepotong cahaya dari tanah Nusantara. Tradisi tahlil, shalawat, hingga budaya gotong royong menjadi warna tersendiri yang menghadirkan wajah Islam ramah dan menenangkan.

Ia juga menekankan bahwa generasi muda NU harus mampu menjadi “akar yang lentur”. Tidak mudah patah oleh arus globalisasi, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa tercerabut dari tradisi.

Baca Juga:  Cara MWC NU Tanggul Peringati 1 Abad NU dan 1 Muharram, Penuh Kekeluargaan dan Ala Santri

“Kalau identitas itu dijaga dengan ilmu dan akhlak, maka di mana pun berada, kita tetap punya pijakan,” katanya.

Sementara itu, Kepala LP2AN Universitas Islam Jember, Agus Zainudin, M.Pd.I. menyampaikan bahwa seminar nasional tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kampus dalam merawat tradisi intelektual Aswaja di tengah tantangan dunia modern.

Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga taman peradaban tempat nilai-nilai keislaman tumbuh dan dirawat bersama.

“Aswaja bukan hanya dipahami dalam ruang teori, tetapi harus hidup dalam cara berpikir, bersikap, dan membangun harmoni sosial. Itulah yang ingin terus ditanamkan di lingkungan UIJ,” ungkapnya.

Seminar berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Diskusi yang mengalir seperti percakapan tentang rumah dan akar budaya itu seolah mengingatkan bahwa sejauh apa pun langkah melangkah, nilai-nilai Aswaja tetap menjadi kompas yang menjaga arah perjalanan.

Baca Juga:  PAC IPNU-IPPNU Tanggul 2025-2027 Dilantik, Teguhkan Komitmen Kader Berkemajuan dan Berintelektual

Reporter : Irwansyah GI

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *