Ledokombo, pcnujember.or.id – Nahdlatul Ulama pada tahun 2026 genap memasuki usia satu abad. Momentum bersejarah ini tidak dimaknai semata sebagai perayaan usia, melainkan juga sebagai ruang refleksi atas kontribusi NU dalam merawat ajaran Islam moderat, menjaga tradisi, serta menguatkan kehidupan kebangsaan dan kebudayaan Nusantara.
Sebagai bagian dari peringatan satu abad NU tersebut, Lesbumi PCNU Jember bekerja sama dengan PTIQ Nurul Quran Ledokombo, NHP Film, dan Sanggar Umah Wetan menggelar kegiatan bertajuk “Ngondhuh Berkah, Ngerandu Poasa’an”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 16 Februari 2026, bertempat di Aula PTIQ Nurul Quran Ledokombo, Kabupaten Jember.
Tema Ngondhuh Berkah, Ngerandu Poasa’an dipilih untuk merepresentasikan laku spiritual dan kultural warga Nahdliyin. Ngondhuh Berkah dimaknai sebagai ikhtiar menjemput keberkahan Allah SWT melalui amaliah dan tradisi, sementara Ngerandu Poasa’an menjadi ajakan untuk merenungi puasa sebagai sarana penyucian diri, penguatan akhlak, serta kepekaan sosial.
Pengasuh PTIQ Nurul Quran Ledokombo, KH. Dr. Muhammad Izzuddin, M.Hi., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan satu abad NU harus diisi dengan kegiatan yang memiliki kedalaman makna.
“Peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Kita perlu meneladani Rasulullah SAW melalui ajaran para ulama, seperti KHR As’ad Syamsul Arifin dan KH. Ahmad Shiddiq, yang pemikiran dan keteladanannya relevan untuk terus didiskusikan hingga hari ini,” ujarnya.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan Shalawat Al-Wasilah PTIQ Nurul Quran Ledokombo, dilanjutkan Mamaca Sang Duta dan pembacaan Babad Satus Taun NU karya Cak Sid dari Sanggar Umah Wetan. Nuansa reflektif semakin terasa melalui pembacaan puisi oleh penyair nasional Muhammad Lefand dari Lesbumi Jember.

Puncak acara ditandai dengan pemutaran film dokumenter “KH. Achmad Shiddiq: Islam dan Pancasila” produksi NHP Film. Yusrizal NH dari NHP Film menjelaskan bahwa film tersebut dibuat untuk mengenang dan merawat warisan pemikiran KH. Achmad Shiddiq tentang relasi harmonis antara Islam dan Pancasila.
“Pemikiran beliau sangat relevan dalam konteks kebangsaan hari ini, terutama di tengah tantangan intoleransi dan polarisasi sosial,” jelasnya.
Dalam sesi ulasan, Prof. Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd., Wakil Ketua PCNU Jember menyampaikan apresiasi sekaligus catatan kritis terhadap narasi sejarah dalam film tersebut. Menurutnya, film ini berhasil menampilkan dialektika pemikiran Islam dan Pancasila yang menjadi fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Sejarah NU dan bangsa ini lahir dari diskursus yang kompleks, tetapi justru produktif dan mencerahkan,” ungkapnya.
Ketua Lesbumi PCNU Jember, Siswanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar kultural NU dalam merawat tradisi sekaligus memperkuat persaudaraan kebangsaan.
“Selain memperingati satu abad NU, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat ukhuwah, meneguhkan nilai toleransi, dan memperkuat kebersamaan sesama anak bangsa,” pungkasnya.
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini dihadiri ratusan santri, dewan guru, seniman, budayawan, aktivis, serta masyarakat umum. Melalui pendekatan seni, budaya, dan refleksi spiritual, NU meneguhkan langkah memasuki abad keduanya dengan tetap berpijak pada tradisi, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman.
Editor : Irwansyah GI












