Peringati Nuzulul Qur’an, Kampus UIJ Gelar Khotmil Qur’an dan Buka Puasa Bersama

KH. Moh. Al Faiz menyampaikan taushiyah Ramadhan pada peringatan Nuzulul Qur’an di Kampus UIJ. Foto (Irwansyah GI/pcnujember.or.id)

Jember, pcnujember.or.id – Kampus Universitas Islam Jember (UIJ) menggelar peringatan Nuzulul Qur’an dengan rangkaian kegiatan Khotmil Qur’an, taushiyah Ramadhan, serta buka puasa bersama pada Senin (9/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Miftahul Ulum Kampus 1 Universitas Islam Jember dan diikuti oleh civitas akademika kampus.

Momentum ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat nilai spiritual sekaligus mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadhan. Selain khotmil Qur’an, kegiatan juga diisi dengan tausiyah keagamaan yang menghadirkan KH. Moh. Al Faiz, S.Si., M.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumy.

Wakil Rektor I Universitas Islam Jember, Dr. Arifin Nur Budiono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai insan akademik, civitas kampus tidak hanya membutuhkan penguatan intelektual tetapi juga penguatan spiritual.

“Hari ini kita sebagai insan membutuhkan insan rohani. Dalam acara ini kami menghadirkan Gus Faiz, kami berharap beliau dapat meluruskan road map kehidupan kita. Sudahkah kita berbuat kebajikan, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Ia juga berharap peringatan Nuzulul Qur’an tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, terlebih dalam menyongsong malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Civitas akademika Kampus UIJ mengikuti peringatan Nuzulul Qur’an dan buka puasa bersama. Foto (Irwansyah/pcnujember.or.id)

“Dalam menyongsong Lailatul Qadar, semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua,” tambahnya.

Sementara itu, dalam taushiyahnya KH. Moh. Al Faiz menyampaikan bahwa puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk menahan berbagai hal yang dapat merusak nilai ibadah.

“Puasa secara bahasa berarti menahan. Proses menahan ini sebenarnya sering kita temukan dalam sholat. Bahkan para ulama mengatakan kualitas puasa seseorang bisa dilihat dari kualitas sholatnya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa seorang muslim yang baik adalah yang mampu menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak menyakiti orang lain.

“Muslim yang baik adalah muslim yang membuat orang lain selamat dari tangan dan lisannya. Mulut ini tidak mungkin berucap jika tidak dikontrol oleh hati,” terangnya.

Menurutnya, puasa merupakan madrasah pembentukan karakter dan integritas. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk memiliki kesabaran, pengendalian diri, serta kemampuan melihat hikmah di balik setiap ujian.

Ia mengutip pesan ulama dalam Risalah Qusyairiyah bahwa orang yang sabar meskipun merasakan kepahitan dalam hidup, tetap menampilkan wajah yang ceria di hadapan orang lain.

“Di dalam diri kita itu ada permata. Meskipun kita memiliki banyak masalah, kita tetap bisa memancarkan kebahagiaan. Karena Allah memerintahkan kita beribadah dan ibadah itu membutuhkan kesabaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gus Faiz menegaskan bahwa keberhasilan puasa dalam kehidupan akademik dapat tercermin dari meningkatnya kesabaran dalam mengajar, sikap wara’ atau kehati-hatian dalam penelitian, serta semangat melakukan kebaikan lebih dari sekadar tanggung jawab.

“Kalau puasa kita berhasil, maka kita bisa menambah sabar dalam mengajar, menambah wara’ dalam penelitian, bahkan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab. Itulah yang disebut muhsin, melakukan sesuatu dengan landasan lillahi ta’ala,” pungkasnya.

Kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama seluruh peserta yang hadir.

Reporter: Irwansyah GI

Exit mobile version