Oleh : Ahmad Halid
pcnujember.or.id – Di tengah arus globalisasi yang kian deras, pendidikan tidak lagi cukup hanya menekankan aspek kognitif. Sekolah dan lembaga pendidikan di berbagai belahan dunia kini menghadapi satu pertanyaan penting: bagaimana membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter kuat? Inilah yang mendorong pendidikan karakter menjadi salah satu tren utama pendidikan global saat ini.
Globalisasi membawa kemajuan luar biasa dalam bidang teknologi, komunikasi, dan informasi. Namun, di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan serius berupa krisis nilai, individualisme, konsumerisme, hingga lunturnya solidaritas sosial. Anak-anak dan remaja tumbuh dalam dunia digital yang serba cepat, instan, dan kompetitif. Dalam konteks inilah pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap kurikulum.
Secara global, tren pendidikan karakter mengalami pergeseran pendekatan. Jika sebelumnya pendidikan karakter dipahami sebagai mata pelajaran tersendiri, kini banyak negara mengintegrasikannya ke dalam seluruh proses pembelajaran. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, kerja sama, dan toleransi tidak lagi diajarkan lewat ceramah moral, melainkan melalui praktik nyata di kelas, budaya sekolah, dan interaksi sosial sehari-hari.
Perkembangan teknologi digital juga turut memengaruhi wajah pendidikan karakter. Platform pembelajaran daring, media sosial, dan kecerdasan buatan menjadi ruang baru pembentukan karakter peserta didik. Tantangannya adalah bagaimana menanamkan etika digital, literasi media, dan tanggung jawab sosial di tengah kebebasan berekspresi dunia maya. Di banyak negara, pendidikan karakter kini mencakup kecakapan abad ke-21, seperti berpikir kritis, pengendalian diri, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
Di Indonesia, tren global ini menemukan relevansinya dengan nilai-nilai budaya dan religius yang telah lama hidup di masyarakat. Pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal, nilai kebangsaan, dan spiritualitas. Sekolah, pesantren, dan keluarga memiliki peran strategis sebagai ekosistem pembentuk karakter. Tantangan terbesarnya adalah menjembatani nilai-nilai lokal tersebut dengan tuntutan global tanpa kehilangan jati diri.
Ke depan, pendidikan karakter di era global menuntut kolaborasi lintas sektor: pendidik, orang tua, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Pendidikan tidak cukup mencetak generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga manusia yang berintegritas, berempati, dan bertanggung jawab secara global. Di tengah dunia yang terus berubah, karakter justru menjadi jangkar moral yang menjaga arah perjalanan peradaban.
*Penulis adalah Rektor Universitas Islam Jember
