Berita, UIJ  

LP2AN UIJ Siapkan Generasi Emas Berkarakter Aswaja Lewat Diklat Aplikatif

Ketua LP2AN UIJ Agus Zainudin, M.Pd.I., bersama narasumber H. Ahmad Badrus Sholihin, M.A., pada Seminar Nasional Pendidikan dan Pelatihan Aswaja Aplikatif Gelombang XXIII Tahun 2026 di Aula Miftahul Ulum UIJ, Rabu (29/7).

Kaliwates, pcnujember.or.id – Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Aswaja An-Nahdliyah (LP2AN) Universitas Islam Jember (UIJ) menggelar Pendidikan dan Pelatihan Aswaja Aplikatif Gelombang XXIII Tahun 2026 di Aula Miftahul Ulum Kampus I UIJ, Rabu (29/7). Kegiatan yang mengusung tema “Generasi Emas Berkarakter Aswaja: Mengintegrasikan Intelektualitas, Sanggup Beradaptasi, dan Teguh Memegang Tradisi” itu menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menyiapkan mahasiswa yang memiliki wawasan keislaman moderat sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Ketua LP2AN UIJ, Agus Zainudin, M.Pd.I., mengatakan pendidikan Aswaja menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi digital yang memengaruhi cara berpikir generasi muda. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus membentuk karakter mahasiswa agar memiliki akhlak, wawasan kebangsaan, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Angkat Kearifan Lokal, Lesbumi Jember Bikin Pelatihan Pranatacara Berbahasa Jawa, Madura, dan Osing

“Kami ingin melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter Aswaja, siap beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan tetap teguh memegang tradisi keilmuan Islam yang moderat,” ujarnya.

Seminar Nasional Pendidikan dan Pelatihan Aswaja Aplikatif Gelombang XXIII Tahun 2026 di Aula Miftahul Ulum UIJ, Rabu (29/7).

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan H. Ahmad Badrus Sholihin, M.A., Dosen UIN KHAS Jember, Wakil Ketua ISNU Jember sekaligus Sekretaris MUI Jember. Dalam paparannya, ia mengingatkan pentingnya penguatan nilai-nilai Aswaja sebagai benteng generasi milenial dan Gen Z di tengah derasnya arus informasi keagamaan di media digital.

Ahmad Badrus menjelaskan, Aswaja An-Nahdliyah memiliki karakter Al-Muhafadhah ‘ala al-Qadim ash-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah, yakni menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Karakter tersebut melahirkan pribadi yang berintegritas, berwawasan luas, seimbang antara intelektualitas dan spiritualitas, serta tetap terbuka terhadap inovasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip agama.

Baca Juga:  Gelar Ngaji tani, Fakultas Pertanian UIJ Upayakan Kesuksesan Petani

Ia juga memaparkan sepuluh nilai utama Aswaja, yakni tawassuth (jalan tengah), tawazun (keseimbangan), i’tidal (adil dan tegas), tasamuh (toleransi), musawah (persamaan), syura (musyawarah), ishlah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan prioritas), tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif), serta tahadhdhur (berkeadaban). Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan.

Dalam sesi diskusi, peserta juga diajak membangun budaya berpikir kritis melalui konsep Voice of Truth, Voice of Encouragement, dan Voice of Challenge. Ketiga konsep tersebut mendorong mahasiswa agar terbuka terhadap kebenaran, mampu menerima kritik yang membangun, serta terus mengembangkan potensi diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat dan organisasi.

Baca Juga:  Ansor Banser Sukorambi Makmurkan Masjid Selama Ramadhan dengan Tarawih dan Tadarus Keliling

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa aktif berdialog mengenai tantangan menjaga identitas keislaman di era digital, cara menyikapi perbedaan pandangan keagamaan, hingga langkah konkret mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja di lingkungan kampus maupun kehidupan bermasyarakat.

Melalui pelatihan ini, LP2AN UIJ berharap lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter religius, toleran, cinta tanah air, dan mampu menjadi agen penyebar nilai-nilai Islam moderat. Agus Zainudin menegaskan, penguatan Aswaja harus menjadi gerakan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi agar mahasiswa siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai insan akademis yang berakhlakul karimah.

Reporter : Irwansyah GI