Sumbersari, pcnujember.or.id– Malam di Antirogo tak sekadar gelap dan sunyi. Ia berubah menjadi hamparan doa yang mengalir khusyuk, saat Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Antirogo 1 menggelar Tahlil Kubro, Ahad (19/4).
Bertempat di Masjid Baitussalam, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, ratusan jamaah larut dalam lantunan tahlil. Sekitar 200 muslimin dan muslimat hadir, duduk bersaf rapi, seakan menyatukan hati dalam satu irama dzikir yang menembus langit malam.
Sejak pukul 18.30 WIB, suasana terasa syahdu. Kalimat-kalimat thayyibah menggema, mengalir seperti arus yang menenangkan, dipanjatkan untuk para leluhur dan pejuang syiar Islam yang telah mendahului.

Ketua Ranting NU Antirogo 1, Ust. Hasan Kholiq, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan. Lebih dari itu, Tahlil Kubro adalah ruang temu yang mengikat kembali simpul-simpul persaudaraan warga.
“Ini bukan hanya doa bersama, tapi juga ikhtiar merawat kebersamaan. Dari sini, ukhuwah tumbuh dan menguat,” ujarnya.
Hadir sebagai penceramah, KH Mahfudz Fuadi, Pengasuh Pondok Pesantren Syamsuth Tholibin Bondowoso, mengajak jamaah untuk tetap teguh menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan zaman, tradisi menjadi jangkar yang menjaga umat agar tidak kehilangan arah.
“Tradisi bukan beban, tapi warisan nilai. Di dalamnya ada tuntunan sekaligus benteng moral bagi kehidupan,” tuturnya dalam tausiyah.
Kegiatan ini pun menjadi lebih dari sekadar ritual. Ia menjelma sebagai ruang konsolidasi, tempat warga saling menguatkan dalam khidmah. Harapannya, semangat kebersamaan yang terbangun tidak berhenti di malam itu saja, tetapi terus hidup dalam setiap langkah pengabdian.
Di Antirogo, tahlil bukan hanya lantunan doa. Ia adalah bahasa hati yang menyatukan, merawat ingatan, dan meneguhkan jati diri nahdliyin di tengah dinamika zaman.
Reporter: Jafar Zhidan
Editor: Irwansyah GI














