Rais PBNU Hadiri Zawiyah Tanggul, Tekankan Adab Santri

Majelis rutin malam Jumat perkuat tradisi ilmu dan ukhuwah jamaah

KH Muhibbul Aman Aly saat menyampaikan tausiyah dalam Majelis Zawiyah Tanggul di kawasan makam Habib Sholeh Tanggul, 16 April 2026. Foto. Riski Wahyudi

Tanggul, pcnujember.or.id – Majelis Zawiyah Tanggul kembali menggelar rutinan malam Jumat pada Kamis (16/4/2026) di kawasan makam Habib Sholeh Tanggul. Kegiatan ini dihadiri Rais Syuriah PBNU, KH. Muhibbul Aman Aly, serta shohibul majelis Muhammad bin Haidar Al-Hamid.

Sejak awal, suasana khidmat terasa melalui lantunan sholawat bersama. Habib Haidar membuka majelis dengan menyapa jamaah dan mengingatkan pentingnya mengawali setiap kebaikan dengan membaca basmalah agar diliputi keberkahan.

Memasuki sesi utama, KH Muhibbul Aman Aly Rais Syuriyah PBNU, mengawali dengan bersiwak sebagai bentuk menghidupkan sunnah Rasulullah. Dalam penyampaiannya, ia mengaku bersyukur dapat hadir dan menilai majelis tersebut sarat keberkahan, terutama karena keterkaitan spiritual dengan Habib Sholeh Tanggul.

Baca Juga:  IPNU-IPPNU Harus Jadi Pelapor Kokohkan NKRI

Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu sebagai bagian dari ikhtiar menata kehidupan. Ia mencontohkan keteladanan sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud, sebagai sosok alim yang patut dijadikan rujukan.

“Jangan sampai di majelis justru tidur. Itu sama saja kehilangan seluruh kesempatan mendapatkan ilmu dan keberkahan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa siapa pun yang enggan menghadiri majelis ilmu termasuk golongan yang merugi. Menurutnya, meski datang tanpa bekal, jamaah tetap memperoleh jamuan, terlebih keberkahan dari para ulama dan kekasih Allah.

Selain itu, KH Muhibbul Aman Aly menegaskan pentingnya menjaga adab terhadap ulama dan kiai. Sikap meremehkan, kata dia, bisa berakibat buruk, bahkan berdampak pada kehidupan seseorang.

Baca Juga:  PAC GP Ansor Sumberbaru Gelar Kerja Bakti Musholla Sambut Ramadhan 1447 H

Dalam materi lanjutan, ia juga mengulas pentingnya memahami sifat-sifat Allah serta menghidupkan penggunaan kalender Hijriyah sebagai bagian dari identitas keislaman yang mulai ditinggalkan.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Pertanyaan dari jamaah mulai dari hukum bermakmum kepada imam yang kurang tepat makhraj bacaannya hingga pembacaan maulid tanpa tajwid dijawab lugas. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Nahdlatul Ulama terdapat pembinaan melalui LTMNU untuk meningkatkan kualitas imam dan pengurus masjid.

Menutup sesi, ia kembali menegaskan pentingnya ketepatan bacaan dalam sholat, khususnya bagi imam yang memikul amanah besar. Sholat yang dilakukan terlalu cepat hingga mengabaikan rukun dan adab, menurutnya, tidak dibenarkan.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Habib Haidar, dilanjutkan mushafahah antar jamaah. Momentum tersebut menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah dan menjaga tradisi kebersamaan di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Perkuat Teritorial, Ansor Tegalsari Ambulu Bagikan Papan Nama Musholla NU

Reporter: Riski Wahyudi
Editor: Irwansyah GI

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *