Sumbersari, pcnujember.or.id – Duka itu datang tanpa aba-aba. Pagi yang mestinya berjalan seperti biasa, mendadak terasa lebih sunyi. Kabar wafatnya Ketua PCNU Jember, Drs. H. Saiful Bahri, MM, Kamis (30/4/2026), menyisakan kehilangan mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember.
Tiga hari sebelumnya, almarhum masih hadir di tengah-tengah kader. Senin Malam Selasa Kliwon (27/4), dalam puncak NU Award, beliau tampak seperti biasa tenang, bersahaja, dan penuh kehangatan. Tak ada tanda perpisahan. Namun justru di momen itulah, tanpa disadari, beliau berpamitan dengan caranya sendiri : lewat senyum dan kebersamaan yang kini tinggal kenangan.
Perjalanan hidup Drs. H. Saiful Bahri, MM adalah potret panjang pengabdian. Ia bukan tokoh yang lahir tiba-tiba di puncak, melainkan tumbuh dari bawah, ditempa oleh dinamika Gerakan Pemuda Ansor. Sejak muda, ia sudah akrab dengan denyut organisasi menyapa ranting, menguatkan kader, dan menanamkan nilai keikhlasan dalam berkhidmah.
Ketika menjabat Ketua GP Ansor Jember pada era 90-an, ia dikenal sebagai sosok yang tak lelah turun ke bawah. Dari forum kecil di desa hingga pertemuan besar, langkahnya selalu membawa semangat. Militansi yang dibangunnya bukan sekadar retorika, melainkan teladan nyata yang dirasakan langsung oleh kader di akar rumput.
Di luar panggung organisasi, almarhum adalah seorang pensiunan aparatur sipil negara di lingkungan Pemkab Jember. Meski telah purna tugas, pengabdiannya tak pernah benar-benar usai. Justru di masa itu, ia semakin leluasa mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk umat dan organisasi menguatkan NU dari dalam dengan keteladanan yang senyap namun mengakar.
Kini, sosok itu telah berpulang. NU Jember kehilangan nahkoda yang selama ini menuntun arah dengan ketegasan dan kebijaksanaan. Namun jejaknya tak akan hilang, justru kian terasa dalam setiap denyut gerak organisasi. Ia hidup dalam ingatan para kader yang pernah dibimbingnya, dalam keputusan-keputusan yang pernah ia wariskan, serta dalam semangat khidmah yang ia tanamkan tanpa pamrih.
Selamat jalan, Sang Penggerak. Semoga segala khidmah menjadi amal jariyah, dan segala lelah menjadi jalan menuju ridha-Nya.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Lahul Fatihah.
Reporter : Irwansyah GI
